Dinastinews – Melawi | KALBAR, 1 Mei 2026. Kondisi infrastruktur jalan di wilayah pedalaman Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, kembali menjadi sorotan. Berdasarkan hasil penelusuran media di lapangan, ruas jalan dari Simpang Mumbung hingga Desa Nanga Siyai kini mengalami kerusakan yang semakin parah. Jalan tanah yang menjadi urat nadi masyarakat itu dipenuhi lubang, batu berserakan, kubangan, serta permukaan bergelombang yang membahayakan pengguna jalan.

Di beberapa titik, badan jalan tampak tergerus dan sulit dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Saat cuaca panas, debu tebal beterbangan. Namun ketika hujan turun, jalan berubah menjadi lumpur licin yang siap menjerat siapa saja yang melintas. Kondisi ini menjadi potret nyata buruknya perhatian terhadap kawasan pelosok.

Warga Menukung yang diwawancarai Media mengaku kecewa karena hingga kini belum ada penanganan serius. Mereka menilai Pemerintah hanya datang saat butuh suara Rakyat, tetapi menghilang ketika Rakyat menuntut hak dasar berupa akses jalan layak.
“Kalau musim hujan kami seperti terisolasi. Mau ke pasar susah, anak sekolah susah, orang sakit lebih susah lagi. Tapi setiap tahun yang datang cuma janji,” ujar seorang Warga dengan nada kesal.
Warga lainnya mengatakan kerusakan jalan bukan persoalan baru, melainkan masalah lama yang terus diwariskan tanpa solusi nyata.
“Sudah bertahun-tahun begini. Jalan ini bukan baru rusak kemarin. Tapi seolah dibiarkan sampai hancur total dulu baru bergerak,” katanya.
Ruas jalan Simpang Mumbung menuju Nanga Siyai sejatinya sangat vital. Jalur ini menjadi akses utama Masyarakat untuk membawa hasil kebun, kebutuhan pokok, Transportasi Pendidikan, hingga pelayanan kesehatan. Ketika jalan rusak, maka Ekonomi warga ikut lumpuh, biaya angkut naik, dan keselamatan Masyarakat dipertaruhkan.
Ironisnya, di tengah gencarnya narasi Pembangunan dan pemerataan, Masyarakat pelosok Menukung justru masih berjibaku dengan jalan tanah yang kondisinya jauh dari kata layak. Kata “Pembangunan” terasa megah di atas kertas, tetapi di lapangan hanya menyisakan debu saat panas dan lumpur saat hujan.
Warga mendesak Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, serta Pemerintah Kabupaten Melawi dan pihak terkait agar segera turun tangan melakukan perbaikan permanen, bukan sekadar tambal sulam musiman yang rusak kembali dalam hitungan minggu.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kerusakan jalan bukan hanya soal Infrastruktur, tetapi bukti nyata lambannya keberpihakan terhadap Masyarakat pedalaman yang selama ini seolah dipaksa sabar tanpa batas.
**** // TIMRED [*]














