Dinastinews – Sintang | KALBAR, 30 April 2026. Sintang kembali dipertontonkan wajah pahit Pembangunan yang timpang. Sebuah kendaraan pengangkut hasil kebun dilaporkan terguling akibat kondisi jalan rusak parah di ruas Jalan Buluh Merindu–Apin, Kecamatan Dedai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Jalan berlumpur, berlubang dalam, licin, dan nyaris tak layak dilintasi itu kembali memakan korban.
Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa kerusakan Infrastruktur bukan lagi sekadar keluhan Warga, melainkan ancaman langsung terhadap keselamatan Masyarakat dan roda ekonomi desa. Dalam foto yang beredar luas di media sosial, kendaraan tampak terbalik di tengah kubangan jalan tanah, sementara muatan sawit berserakan di badan jalan. Pemandangan ini bukan hanya memalukan, tapi juga menampar keras pihak-pihak yang selama ini gemar menjual janji.
Ironisnya, hingga saat ini belum terlihat langkah serius dari Pemerintah Kabupaten Sintang maupun Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat untuk menangani ruas jalan tersebut secara tuntas. Bertahun-tahun Masyarakat menunggu, namun yang datang hanya retorika, kunjungan seremonial, dan janji Politik musiman.
Menurut dari informasi Warga dari Kecamatan Dedai yang berinisial (YLK), yang mengunggah kondisi tersebut di Platform Media Sosial Facebook, menyuarakan kekecewaan mendalam sebagai pengguna jalan yang setiap hari harus mempertaruhkan keselamatan demi beraktivitas. Keluhan itu mewakili suara banyak Masyarakat pedalaman yang merasa dianaktirikan dan dibiarkan terisolasi.
“Kalau musim panas berdebu, kalau hujan jadi kubangan maut. Mau sampai kapan kami begini?” keluh warga dalam berbagai komentar yang bermunculan.
Sorotan tajam juga layak diarahkan kepada para Wakil Rakyat, baik di tingkat Kabupaten, Provinsi, hingga Pusat. Saat kampanye, jalan rusak selalu jadi bahan Pidato Kampanye. Namun setelah kursi diraih, Rakyat kembali dibiarkan berjibaku sendiri dengan lumpur dan kerusakan.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka Pemerintah patut dianggap gagal memenuhi kebutuhan dasar Masyarakat. Infrastruktur jalan bukan hadiah Politik, melainkan hak Rakyat. Jalan rusak berarti distribusi terhambat, harga kebutuhan naik, hasil kebun merugi, anak sekolah terlambat, hingga nyawa jadi taruhan.
Kabupaten Sintang tidak kekurangan Pejabat. Yang kurang adalah keberanian bertindak dan keseriusan menepati janji.
Masyarakat Buluh Merindu, Apin, dan wilayah sekitar tidak butuh baliho ucapan selamat, tidak butuh pencitraan, tidak butuh pidato basa-basi. Mereka butuh jalan yang layak.
Sebab jika Pemerintah terus diam, maka lumpur di jalan itu akan menjadi simbol paling telanjang dari gagalnya kepemimpinan.
Jika ada Pihak yang merasa dirugikan oleh Pemberitaan ini dan ingin memberikan klarifikasi atau hak jawab, Media dengan senang hati akan merespon dan menindaklanjuti.
*** // TIMRED [*]














